Pasartani.info – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia saat ini telah memasuki fase kemandirian pangan dan tidak lagi bergantung pada pasokan dari negara lain. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden dalam agenda Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan yang digelar di Karawang, Jawa Barat, pada Rabu.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan bahwa capaian swasembada beras dan pangan nasional berhasil diraih hanya dalam waktu satu tahun sejak dirinya dilantik. Pencapaian ini melampaui target awal pemerintah yang sebelumnya diproyeksikan membutuhkan waktu hingga empat tahun. Menurut Presiden, keberhasilan ini menunjukkan kemampuan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kekuatan sendiri.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa kemerdekaan suatu bangsa tidak akan pernah sepenuhnya utuh apabila pemenuhan kebutuhan pangannya masih bergantung pada negara lain.
Ia mengingatkan pengalaman Indonesia pada masa pandemi COVID-19, ketika sejumlah negara produsen beras memilih menahan stoknya dan membatasi ekspor. Situasi tersebut, menurut Presiden, menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kemandirian nasional di sektor strategis.
Peristiwa tersebut disebut Presiden sebagai peringatan serius atau “lampu kuning” bagi Indonesia agar tidak lengah.
Ketergantungan terhadap pihak luar, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, energi, dan bahan bakar, dinilai sebagai risiko besar yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen memperkuat sektor-sektor vital demi menjaga ketahanan nasional.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menekankan bahwa sektor pertanian Indonesia memiliki potensi besar yang tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan pangan.
Ia menyampaikan bahwa pertanian juga dapat menjadi pilar penting dalam mendukung kemandirian energi nasional. Menurutnya, kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar solar, sementara singkong dan tebu berpotensi diolah menjadi etanol sebagai campuran bensin.
Potensi tersebut, kata Presiden, membuktikan bahwa sektor pertanian mampu menjadi tulang punggung kedaulatan pangan sekaligus energi nasional.
Sejak awal masa jabatannya, Presiden Prabowo telah menetapkan target swasembada beras dan swasembada pangan dalam kurun waktu empat tahun. Namun, berkat kerja keras, sinergi, serta persatuan seluruh pelaku sektor pertanian lintas komoditas, target tersebut berhasil dicapai jauh lebih cepat dari rencana.
Memasuki awal tahun 2026, Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan bahwa stok beras nasional mencapai 12,529 juta ton.
Stok tersebut tersebar di gudang Perum Bulog, penggilingan padi, hingga cadangan di tingkat rumah tangga. Dari jumlah tersebut, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog tercatat sebesar 3,25 juta ton, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Dengan kebutuhan konsumsi nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, ketersediaan beras nasional diproyeksikan aman hingga akhir tahun.
Seiring dengan keberhasilan swasembada tersebut, Menteri Pertanian menegaskan bahwa pemerintah secara resmi meniadakan impor beras pada tahun 2026. Bahkan, dengan produksi dalam negeri yang melimpah, Indonesia kini mulai menjajaki peluang ekspor beras ke sejumlah negara tetangga.
Capaian ini menandai tonggak penting bagi Indonesia dalam memperkuat kedaulatan pangan, ketahanan energi, serta kesejahteraan nasional secara berkelanjutan.

