Pasartani.info – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa modernisasi sektor pertanian merupakan fondasi utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan, terutama di tengah tantangan global dan dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Transformasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi, mekanisasi, serta penguatan kapasitas petani dinilai menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditunda.
Pernyataan tersebut disampaikan Mentan Amran dalam kegiatan Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan yang dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat. Acara tersebut dihadiri sekitar 5.000 petani dan penyuluh secara luring serta diikuti lebih dari dua juta petani secara daring dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Mentan Amran menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat mekanisasi pertanian melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), peningkatan akses sarana produksi, serta pendampingan intensif kepada petani. Upaya ini bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Menurut Amran, pendekatan berbasis inovasi dan teknologi terbukti mampu meningkatkan indeks pertanaman, menekan biaya produksi, dan menghasilkan nilai tambah bagi petani. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk membangun sistem pertanian Indonesia yang modern, efisien, dan berdaya saing sebagai pilar utama kemandirian pangan nasional.
Presiden Prabowo Subianto dalam kesempatan tersebut turun langsung ke sawah untuk memimpin panen raya padi. Kehadiran Presiden menjadi simbol penegasan arah pembangunan pertanian nasional yang bertumpu pada modernisasi, mekanisasi, dan pemanfaatan teknologi. Panen raya ini sekaligus menjadi momentum pengumuman resmi keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan komoditas beras.
Panen dilakukan di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi nasional. Proses panen memanfaatkan teknologi combine harvester yang memungkinkan kegiatan panen berlangsung lebih cepat, mengurangi kehilangan hasil, serta menekan ketergantungan pada tenaga kerja manual.
Selain mekanisasi, pemanfaatan varietas unggul padi juga menjadi faktor penting peningkatan produksi. Varietas Inpari 32 yang dikembangkan Kementerian Pertanian memiliki potensi hasil mencapai 8,42 ton per hektare dan telah banyak diadopsi petani. Presiden Prabowo mendorong pengembangan varietas unggul baru dengan target produktivitas hingga 15 ton per hektare di masa depan.
Tidak hanya menyaksikan panen, Presiden juga meninjau berbagai inovasi pertanian, mulai dari penggunaan drone, pompa air, hingga produk hilirisasi pertanian. Teknologi tersebut dinilai sebagai pengungkit utama untuk mendorong swasembada pangan yang berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi.
Presiden Prabowo turut menyampaikan optimismenya terhadap capaian sektor pertanian ke depan. Ia mengungkapkan bahwa setelah swasembada beras berhasil dicapai, pemerintah menargetkan swasembada jagung dalam waktu dekat. Upaya tersebut didukung oleh Kementerian Pertanian serta sinergi dengan TNI dan Polri.
Menurut Presiden, swasembada jagung akan berdampak langsung pada penurunan harga pakan ternak, sehingga mendorong kesejahteraan petani dan peternak. Pemerintah juga berkomitmen terus menekan biaya produksi, termasuk harga pupuk, demi memperkuat daya saing sektor pertanian nasional.
Melalui modernisasi yang konsisten, pemerintah optimistis pertanian Indonesia akan menjadi tulang punggung ketahanan pangan, kesejahteraan petani, dan kedaulatan bangsa di masa mendatang.

