Beranda PANGAN IIFS Jadi Komitmen Awal Wujudkan Ketahanan Pangan Indonesia

IIFS Jadi Komitmen Awal Wujudkan Ketahanan Pangan Indonesia

222
0
Menteri Bappenas Suharso Monoarfa dalam penandatanganan perjanjian kerjasama Proyek Percontohan Triple Helix Institut Sistem Peternakan Inovatif di Manado yang untuk selanjutnya disebut sebagai Institute of Innovative Farming Systems atau IIFS

Jakarta – Pada tanggal 22 Januari 2022, Bappenas, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, CQU-Australia dan UNSRAT menandatangani perjanjian kerjasama sebagai bagian dari Proyek Percontohan Triple Helix Institut Sistem Peternakan Inovatif di Manado, selanjutnya disebut Institute of Innovative Farming Systems atau IIFS. Dengan demikian, IIFS menjadi komitmen di awal pelaksanaan ketahanan pangan.

“Kita tahu bahwa ketersediaan pangan yang berada di bawah tingkat permintaan akan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi, gejolak sosial dan politik yang akan mengganggu stabilitas nasional,” jelas Menteri Bappenas Indonesia Suharso Manoarfa dalam siaran persnya, Jumat (11/2).

Penandatanganan tersebut merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman Kemitraan Triple Helix Untuk Pengembangan Pertanian/Ketahanan Pangan di Sulawesi Utara bersama yang telah ditandatangani oleh Kementerian Pertanian, Pemprov Sulawesi Utara, Pemkab Bolaang Mongondow Utara, Universitas Sam Ratulangi Manado (UNSRAT), Central Queensland University – Australia (CQU-Australia), dan Trade Investment Queensland (TIQ) pada Januari 2021.

Rektor CQU Profesor Nick Klomp menambahkan bahwa pembentukan IIFS merupakan tanda komitmen CQU-Australia untuk berkontribusi pada tujuan pembangunan pangan nasional Indonesia.

Baca Juga : Holding Pangan ID Food Pasok Pasar Dengan 57,5 ​​Ton Minyak Goreng Murah

Melalui kerjasama ini, CQU-Australia telah memberikan beasiswa PhD atau PhD kepada Warga Negara Indonesia (WNI) yang terlibat dalam penelitian dan penelitian di IIFS.

Tidak hanya itu, CQU-Australia juga menyiapkan tenaga ahli dengan pengalaman penelitian kelas dunia dan berbagai macam teknologi mutakhir untuk digunakan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan IIFS.

“Terima kasih kepada Bakrie, Sam ratulagi dan pemerintah Indonesia khususnya Bappenas, kami mengapresiasi nilai-nilai kerjasama yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan, perkembangan masyarakat Indonesia atau Australia,” ujar Prof. Klomp.

Prof. Klomp menambahkan, dengan tersedianya sentra pembibitan dan pertanian yang sesuai, diharapkan dapat meningkatkan minat dan minat investor dari berbagai belahan dunia untuk berinvestasi di Indonesia.

“Tidak hanya itu, IIFS juga diharapkan menjadi awal dari pembangunan dan peningkatan kualitas produksi peternakan dan pertanian di kawasan Indonesia Timur untuk melaksanakan program pemerintah mempersiapkan Indonesia menjadi lumbung dunia pada tahun 2045.” dia menjelaskan.

Baca Juga : Lampung berpotensi menjadi lumbung pangan nasional

Seremoni penandatangan kerjasama tersebut juga bertepatan dengan acara wisuda angkatan pertama mahasiswa program kolaborasi MM-MBA Universitas Bakrie dan CQU-Australia. CQU-Australia dan Universitas Bakrie telah menjalin kemitraan sejak tahun 2020 lalu.

Kolaborasi ini juga menawarkan program undergraduate (S1), yang menawarkan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan program atau graduate guarantee. Kemitraan tersebut menjadi bukti ketersediaan akses yang mudah dan terjangkau untuk mendapatkan gelar pendidikan bertaraf internasional.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments